Celotehan 140 Karakter

Sudah lama tidak menulis di blog ini dan sepertinya saya juga mulai lupa bagaimana harus mulai menulis lagi. Menulis di blog ini sebenarnya tidaklah susah karena tinggal menuangkan saja apa yang sedang dipikirkan, tapi ternyata tidak semudah itu karena terkadang hal yang sedang dipikirkan itu begitu susah diekspresikan kedalam rangkaian kata-kata. Jadilah saya sampai harus berhenti beberapa menit untuk mencari kata-kata yang pas untuk dituliskan disini. Ahh tiba-tiba saya langsung teringat sebuah jejaring social dimana saya bisa begitu bebas berkespresi disana tanpa terbentur dengan kebakuan rangkaian kata-kata yang akan saya tuliskan. Jejaring social karya Jack Dorsey ini benar-benar memanjakan saya dalam berkespresi di dunia maya bahkan terkadang ekspresi yang tidak bisa diungkapkan dalam dunia nyata mampu saya ekspresikan disini. Yap bisa dikatakan Twitter telah meracuni saya, meracuni saya dalam mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran saya. Dengan hanya terbatas 140 karakter, banyak celotehan yang bisa saya ungkapkan disini,Terkadang bahkan celotehan tak penting yang tiba-tiba muncul di pikiran saya pun bisa terungkapkan.


Continue reading

Saya ingin kembali

Wihh sepertinya sudah hampir 2 tahun lebih saya hiatus meninggalkan rumah blog saya ini. Sudah banyak perubahan yang terjadi yang tidak diiringi dengan adanya perubahan di blog ini.

Tapi sepertinya keinginan untuk kembali coret-mencoret di halaman ini mulai kembali :) . dan beruntungnya saya masih mengingat Password saya disini jadi masih bisa melanjutkan corat coret disini tanpa perlu repot repot men-tarce password-nya :) . OK mudah2an saja bukan cuma keinginan tanpa perwujudan, mudah-mudahan bisa segera menulis kembali setidaknya just 4 fun

Dance With My Father

Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then
Spend me around till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure I was loved

If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never ever end
How I’d love love love to dance with my father again

When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me(yeah, yeah)
Then finally make me do just what my momma said
Later that night, when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he would be gone from me

If I could steal
One final glance
One final step
One final dance with him
I’d play a song that would never ever end
Cause I’d love love love to dance with my father again

Sometimes I’d listen outside her door
I’d hear how my mother cried for him
I’d pray for her even more than me

I know I’m praying for much too much
But could you send back the only man she loved
I know you don’t do it usually
But dear Lord she’ s dying to dance with my father again

Every night I fall asleep
And this is all I ever dream

Note:

Lagu ini aslinya dinyanyikan oleh Luther Vandross tapi saya lebih menyukai versi-nya Kellie Coffey karena entah kenapa lagunya lebih terasa soul-nya ketika yang nyanyi dia. Awalnya waktu pertama kali teman saya memutar lagu ini saya malah kurang begitu suka karena temponya yang terlalu slow dan lyricnya kurang begitu jelas (yang diputar waktu itu yang dinyanyikan oleh Luther Vandross), tapi setelah beberapa kali diputar saya baru sedikit menyadari maksud lyricnya dan mulai mencoba mendengarnya (Satu lagi bukti bahwa lingkungan bisa mempengaruhi kesukaan music seseorang) kebetulan saya juga diberikan yang versi Kellie Coffey nya dan ternyata benar lagunya dalem banget.